Hadloroh Ulul Ahbab

Minggu, 25 September 2011

KH. Maimun Zubair Berkunjung ke Madrasah Quaraouiyine {Maroko}

Berkunjung ke Madrasah Quaraouiyine (baca qarawiyyin -red) menjadi salah satu agenda kunjungan KH. Maimun Zubair Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah selama di Maroko.

Madrasah Quaraouiyine adalah salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di dunia. Didirikan pada tahun 245 / 857 M, oleh Fatimah Fihriyah, seorang wanita dari kota Kairouan, Tunisia.  Maka, nama Quaraouiyine pun diambil dari kata Kairouan ini.

Tempat pertama yang dikunjungi di komplek ini adalah Madrasah al-Shaffarin, madrasah ini sebenarnya merupakan kamar-kamar untuk santri-santri Jami' Quaraouiyine (Jami' berarti masjid –red). Dulu pernah ada santri dari Indonesia yang mondok di sini yaitu Ustad Amrul Qois dari Jakarta.

Di dalam salah satu kamar Madrasah al-Shaffarin ini terdapat mauqifnya Imam Jazuli di mana beliau gunakan untuk mengarang kitab shalawat Dalail al-Khoirat.
Kemudian tempat yang dikunjungi adalah gudang ilmu perpustakaan Quaraouiyine. Biasanya tempat ini dilarang untuk dijadikan tempat tourist, tapi dengan kharisma Mbah Kyai Maimun, serta keikutsertaan Ibu Dubes, pegawai perpustakaan pun mempersilahkan dengan ramah kunjungan rombongan ini.

Di perpustakaan Quaraouiyine ini kitab-kitab berjejeran di rak buku dengan tersusun rapi. Mbah Kyai pun sempat membuka-buka kitab dan membaca kitab yang dipilih hampir 15 menit di situ.

Kepala Perpustakaan mengatakan  bahwa perpustakaan Quaraouiyine memiliki 4.000 lebih manuscript yang di simpan di sini, dan kebanyakannya sudah di foto atau masuk dalam micro film untuk dibaca oleh para ahlinya.

Ketika adzan dhuhur menggema, rombongan segera masuk ke Jami' Quaraouiyine dan melakukan shalat dhuhur berjamaah karena pintu masjid hanya akan dibuka ketika waktu solat saja. Ketika selesai mereka akan menguncinya.

Setelah Mbah Kyai berdiri di shaf paling depan. Ketika itu, beliau bertanya kepada Muhammad Ayman, S.HI yang menjadi pemandu Mbah Kyai, mengapa orang-orang pada solat miring ke kiri?

"Dulu bangunan Masjid Quaraouiyine dibangun ketika belum tahu arah kiblat. akan tetapi setelah beberapa ratus tahun baru diketahui kesalahan tersebut. Oleh sebab itu mereka merubah arah kiblat akan tetapi bangunan tetap sama" Jawab Ayman, Mahasiswa Malaysia di Maroko yang pernah mengenyam ilmu di Pon-Pes Raudlatul 'Ulum, Kencong-Kepung-Kediri-Jawa Timur selama 13 tahun.

"Perkara ini langsung ditolak oleh KH Maimun Zubair. Beliau berkata itu tidak sepatutnya berlaku. Karena dalam 4 mazhab yang penting adalah dalail al-qiblat. Jadi, dengan menghadap arah timur sudah benar. Ini berbeda dengan mazhab Syiah menurut beliau" tutur Ayman mengutip penjelasan Romo Kyai.

"Perkara ini ditegur beliau karena isu perubahan kiblat masjid di Indonesia yang juga seperti di dalam film Sang Pencerah" lanjutnya.

Setelah itu Romo Kyai diperkenalkan dengan Imam Masjid Quaraouiyine. Dan melihat-lihat kursi di masjid yang bertingkat-tingkat menyerupai kursi khatib jumat di mana kursi tersebut adalah tempat duduk Syuyukh Quaraouiyine untuk mengajar. Jami' Quaraouiyine merupakan tempat menuntut ilmu seperti pesantren di Indonesia.

Setelah selesai berkunjung di komplek Jami' Quaraouiyine, Rombongan berangkat menuju ke Maqam Syeikh Tijani. Di sana langsung disambut oleh Pimpinan  Thoriqoh tersebut. Dan dilanjutkan dengan membaca tahlilan dan doa bersama.

Ketika sudah selesai, Rombongan yang disertai Ibu dubes Mahsusoh Ujiati dan Staf KBRI Pelaksana Fungsi Pensosbud Suparman Hasibuan,  berangkat menuju kendaraan untuk selanjutnya berangkat ke tempat tujuan terakhir di kota Fes yaitu Maqam Abu Bakar Ibnu al-Arabiy, pengarang Tafsir al-Ahkam al-Qur'an yang masyhur.(Ba)
 
 
Redaktur : Dept. Media dan Informasi PPI Maroko 2011-2012

Kamis, 11 Agustus 2011

K.H.Maimoen Zubair

K.H.Maimoen Zubair
Tanggal lahir Syaikhuna yang selama ini diyakini bertepatan dengan 28 Oktober 1928 ternyata memiliki kejanggalan. Kejanggalan itu terjadi ketika dikonversi ke penanggalan Hijriyah yang ternyata jatuh pada bulan Jumadal Ula. Padahal, seperti disampaikan sendiri oleh Syaikhuna, beliau lahir pada bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadhan. Kejanggalan juga terjadi berkaitan dengan wethon. Sebab, 28 Oktober 1928 jatuh pada hari Minggu Wage, sementara Syaikhuna menyebutkan, lahir pada hari Kamis Legi.

Setelah hal ini saya konfirmasikan kepada Syaikhuna sendiri, saya mendapat jawaban bahwa menurut beliau tanggal 28 Oktober 1928 hanyalah perkiraan. Justru beliau yakin bahwa beliau lahir pada Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 atau 1348.

Berdasarkan penghitungan falak, Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 jatuh pada tanggal 27 bertepatan dengan 7 Pebruari 1929. Dan Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1348 jatuh pada tanggal 23 bertepatan dengan 23 Januari 1930. Dengan mempertimbangkan 28 Oktober 1928 sebagai perkiraan, maka bisa disimpulkan tanggal lahir Syaikhuna adalah 27 Sya’ban 1347 H. bertepaatan dengan 7 Pebruari 1929 M., karena tanggal inilah yang lebih dekat dengan 28 Oktober 1928.

Kejanggalan 28 Oktober 1928

Di buku-buku memori siswa Ghozaliyah dan Muhadloroh Al-Anwar, tanggal lahir Syaikhuna tertulis 28-Oktober-1928. Biografi yang ditulis oleh saudara Noor Amin Sa’dullah juga menyebutkan 28-Oktober-1928 sebagai tanggal kelahiran Syaikhuna. Di berbagai biografi yang pernah saya baca, tanggal lahir Syaikhuna juga disebutkan 28-Oktober-1928 yang bertepatan dengan hari sumpah pemuda. Demikian pula biografi yang ditulis KH Muhammad Najih Maemoen menyebutkan hari sumpah pemuda sebagai hari kelahiran Syaikhuna. Dan tanggal inilah yang selama ini diyakini banyak orang sebagai hari kelahiran Syaikhuna.

Pada acara haul Mbah Zubair tahun 1428 lalu, seperti biasa teman teman alumni yang datang, termasuk saya, sowan ke Syaikhuna. Saat itu Syaikhuna sempat ngendikan bahwa beliau lahir bulan Sya’ban menjelang Puasa. Beliau tidak menyebutkan, tanggal berapa tepatnya, tetapi yang jelas sudah mendekati bulan Ramadhan. Beliau hanya memastikan bahwa wetonnya adalah Kamis Legi.

Saya juga menemukan informasi yang sama dalam biografi yang ditulis KH Najih Maimoen. Di situ disebutkan bahwa Syaikhuna lahir di Karangmangu Sarang Rembang pada hari Kamis bulan Sya’ban 1428 H. bertepatan dengan 28 Oktober 1928 M.

Saya penasaran dengan informasi terbaru ini. Begitu pulang ke rumah saya coba otak-atik hari “Sumpah Pemuda” dan Kamis Legi bulan Sya’ban dengan menggunakan hisab ephimeris dengan markaz atau epoch Semarang. Hasil pertama yang saya temukan adalah bahwa tanggal 28 Oktober 1928 M. bertepatan dengan Minggu Wage 14 Jumadal Ula 1347 H. Hasil yang tidak menggembirakan tentunya. Sebab, ternyata hari Sumpah Pemuda tidak bertepatan dengan bulan Sya’ban juga tidak jatuh pada hari Kamis Legi.

Sekarang saya menggunakan asumsi kedua, yaitu penanggalan Hijriyah. Saya coba mencari awal Ramadlan yang berada pada tahun 1928, untuk mengkompromikan antara qaul Sya’ban menjelang Ramadhan dari sisi Hijriyah dengan qaul 28 Oktober 1928 dari sisi Masehi. Dan hasilnya, awal Ramadhan 1346 adalah satu-satunya Ramadlan yang berada pada tahun 1928, tepatnya jatuh pada Kamis Legi 23 Pebruari 1928 dengan hitungan istikmal. Ini juga hasil yang tidak memuaskan. Sebab dengan demikian Kamis Legi bulan Sya’ban tidak ada kena-mengenanya dengan 28 Oktober 1928.

Dengan hasil penghitungan di atas maka hanya ada dua kemungkinan: berpatokan dengan penanggalan Masehi dengan mengabaikan informasi Kamis Legi Sya’ban atau berpatokan pada penanggalan Hijriyah dengan mengabaikan hari Sumpah Pemuda. Sebab 28 Oktober 1928 berada di bulan Jumadal Ula yang berarti jauh dari bulan Sya’ban, dan Sya’ban yang berada di tahun 1928 jatuh pada bulan Pebruari yang berarti jauh dari Oktober.

Kamis Legi Sya’ban 1347 atau 1348

Jalan satu-satunya untuk mengurai kejanggalan di atas adalah bertanya langsung kepada sumber aslinya. Pada hari Rabu 28 Juli 2008 selepas jama’ah Maghrib Al-Anwar saya berkesempatan menghadap Syaikhuna dalam suasana yang kondusif untuk bertanya panjang lebar. Saat itu hanya ada saya, Abdul Aziz, menantu Almaghfurlah Pak Thoyfoer, dan temannya.

Saya bertanya, “Ingkang kawulo mireng, panjenengan lahir tanggal 28 Oktober 1928. Nopo leres mekaten?”.

“iku lha’ mung kiro-kiro, heh”, jawab Syaikhuna.

Sebelum sempat bertanya lebih jauh, kami bertiga dipersilahkan makan. Dan selama di meja makan pembicaraan beralih ke topik lain.

Setelah kembali ke ruang tamu, saya tidak langsung melanjutkan wawancara, karena tampaknya Abdul Aziz perlu menyelesaikan maksud sowannya. Beberapa menit kemudian, baru saya meminta ijin untuk bertanya lagi.

“Nopo leres jenengan lahir teng wulan Sya’ban, Yai”, tanya saya.

“iyo bener”, Jawab Syaikhuna pendek.

“tahune 47 utowo 48, aku lali”, sambung Syaikhuna.

Saya keluarkan pena dan kertas yang memang sudah saya persiapkan, kemudian mencatat hasil wawancara. Saya kembali bertanya, “wetonipun Kemis Legi, leres mekaten, Yai”.

Sambil tersenyum Syaikhuna balik bertanya, “Arep mbok kapakno?”.

“Mboten, Yai. Namung bade nyerat biografinipun panjenenagan”, jawabku singkat.

“iyo Kemis Legi”, demikian akhirnya Syaikhuna menegaskan wetonnya.

Dari wawancara itu saya mendapatkan beberapa fakta penting langsung dari sumber aslinya sbb :

1. Syaikhuna yakin, lahir pada bulan Sya’ban
2. Syaikhuna yakin, lahir pada hari Kamis Legi
3. Syaikhuna yakin, tahun kelahirannya adalah 1347 atau 1348 H.
4. Syaikhuna yakin bahwa tanggal lahir 28 Oktober 1928 hanyalah perkiraan dan bukan kepastian.

Dari keempat fakta diatas, dua fakta pertama merupakan kepastian hari dan bulan, sekaligus kata kunci yang dapat menentukan kepastian tanggal. Sebab Kamis Legi merupakan siklus 35 hari. Berarti dalam satu bulan tidak mungkin terjadi dua Kamis Legi. Bahkan, belum tentu setiap bulan memiliki hari Kamis Legi. Dengan demikian, tanggal kelahiran Syaikhuna adalah tanggal yang jatuh pada Kamis Legi di bulan Sya’ban.

Kemudian fakta ketiga dan keempat adalah petunjuk yang dapat menentukan tahun. Fakta ketiga memberikan dua alternatif tahun, yaitu 1347 dan 1348. Dan fakta keempat adalah perkiraan tanggal yang menggunkan sebuah moment besar sebagai ancer-ancer. Dalam tradisi jawa moment besar biasa digunakan sebagai ancer-ancer hari kelahiran. Misalnya, orang yang lahir satu atau dua bulan setelah Gestapu dikatakan lahir saat Gestapu. Dengan berpegang pada fakta keempat bahwa hari Sumpah Pemuda hanyalah perkiraan, maka fakta keempat adalah ancer-ancer untuk menentukan, apakah Syaikhuna lahir di tahun 1347 atau 1348.

Berdasarkan penjelasan di atas saya merumuskan kerangka dasar untuk menentukan tanggal lahir syaikhuna sbb: Syaikhuna lahir pada tanggal yang bertepatan dengan hari Kamis Legi di bulan Sya’ban pada tahun antara 1347 atau 1348 Hijriyah yang lebih dekat dengan 28 Oktober 1928 Masehi.

Untuk mengimplementasikan kerangka dasar tersebut, pertama-tama saya akan menetapkan, kapan bulan Sya’ban 1347 terjadi. Kemudian saya akan mencari, jatuh pada tanggal berapakah hari Kamis Legi bulan tersebut. Langkah yang sama akan saya lakukan untuk mencari Sya’ban tahun 1348. Jika Sya’ban 1347 dan 1348 sama-sama memiliki hari Kamis Legi, maka saya akan memilih tahun yang lebih dekat dengan tanggal 28 Oktober 1928 M. Dan jika hanya salah satu yang memiliki hari Kamis Legi, maka tahun itulah yang saya tetapkan sebagai tahun kelahiran Syaikhuna.

Perlu dicatat bahwa dalam menetapkan awal bulan Sya’ban saya menggunakan metode Hisab Ephimeris dengan markaz atau epoch Sarang yaitu: 6° 44' LS dan 111° 36', serta batas minimal imakanur ru’yah 2°. Pilihan terhadap metode hisab semata mata karena metode inilah yang mungkin saya gunakan. Sebab saya tidak menemukan dokumentasi ru’yah untuk bulan Sya’ban 1347 ataupun 1348. Dan dalam hal ini, perbedaan ru’yah dan hisab hanya mempengaruhi penetapan tanggal hijriyah saja.

Menurut hasil penghitungan saya, bulan Sya’ban 1347 jatuh pada Sabtu Kliwon, 12 Januari 1929. dan Kamis Legi yang ada dalam bulan tersebut jatuh pada tanggal 27 bertepatan dengan tanggal 7 Pebruari 1929.

Untuk tahun 1348, awal bulan Sya’ban jatuh pada Rabo Wage, 1 Januari 1930. Dan hari Kamis Legi di bulan tersebut jatuh pada tanggal 23 bertepatan dengan 23 Januari 1930.

Dengan demikian baik tahun 1347 maupun 1348 sama-sama memiliki Kamis Legi yang jatuh pada bulan Sya’ban, yaitu:

* Kamis Legi 27 Sya’ban 1347 H. bertepatan dengan 7 Pebruari 1929
* Kamis Legi 23 Sya’ban 1348 H. bertepatan dengan 23 Januari 1930

Dari kedua Kamis Legi Sya’ban di atas, yang lebih dekat dengan 28 Oktober 1928 adalah Kamis Legi Sya’ban tahun 1347. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa tanggal lahir Syaikhuna adalah 27 Sya’ban 1347 H. bertepaatan dengan 7 Pebruari 1929 M.


Istri dan Putra-Putri Syaikhuna
Print this page Generate PDF

Anak dalam keluarga adalah anugrah terbesar yang merupakan cikal bakal masyarakat dan generasi penerus. Dan memberikan ma’na bahwa masyarakat dan generasi yang baik hanya akan terwujud bila setiap keluarga lebih mengedepankan nilai dan tatanan kebaikan dalam keseharian. Menjadikan mereka berilmu tinggi, berwawasan luas, berakhlaq mulia dan tak kalah pentingnya adalah lantunan do’a yang selalu diharapkan pada saat orang tua telah berada di alam barzah.

Senada dengan itu, KH. Maimoen Zubeir dalam mendidik putra-putrinya selalu mngedepankan pendidikan dan budi pekerti luhur yang keduanya menjadi pondasi utama dalam mengarungi kehidupan menuju kebahagiaan abadi. Tak lupa juga do’a untuk mereka, beliau berharap agar semuanya menjadi anak sholeh sholihah. Dan kiranya Alloh SWT mengabulkan harapan beliau yang dimunajatkan dengan sunguh-sungguh dan tak mengenal kata bosan.

Berikut istri dan putra putri beliau:

* Ibu Nyai Hj. Masthi'ah (Istri)
* KH. Abdullah Ubab Maimoen (Putra Pertama)
* KH. Muhammad Najih Maemoen (Putra Kedua)
* KH. Majid Kamil Maimoen (Putra Keempat)
* KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA (Putra Kelima)
* KH. Abdur Rouf Maimoen (Putra Keenam)
* KH. Muhammad Wafi Maimoen (Putra Ketujuh)

Selasa, 09 Agustus 2011

Riwayat Panjang Dalam Berdirinya Ka'bah Dalam Perjalanan Islam

Ka'bah
 MAKKAH (Berita SuaraMedia) - Ka'bah berkali-kali rusak sehingga harus berkali-kali dibongkar sebelum dibangun kembali. Di Museum Haramain, benda-benda itu disimpan.
Ada kotak tempat menyimpan parfum yang dulu pernah mengisi ruangan Ka'bah. "Ruang Ka'bah isinya hanya tiga pilar dan kotak parfum itu,'' ujar Abdul Rahman, menunjuk pilar-pilar dan kotak yang letaknya berjauhan.

Petugas Museum Haramain di Ummul Joud, Makkah, itu mengantar kami keliling melihat koleksi museum. Museum ini menyimpan benda-benda dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ada potongan pilar Ka'bah yang bentuknya sudah seperti kayu fosil berwarna cokelat tua, disimpan bersama kunci pintu Ka'bah dari kayu, juga berwarna cokelat tua. Pintu Ka'bah selalu dikunci dan pemegang kunci sudah turun-temurun dari satu keluarga, sejak sebelum Nabi lahir.


Tangga kuno yang pernah dipakai untuk masuk Ka'bah juga tersimpan di museum ini. Tersimpan pula pelapis Hajar Aswad serta pelapis dan pelindung Maqam Ibrahim. Jika orang-orang berebut mencium pelindung Maqam Ibrahim, seharusnya yang layak dicium adalah yang tersimpan di museum ini karena usianya lebih tua dari pelindung yang sekarang dipasang.

Namun, tak ada anjuran mencium Maqam Ibrahim. Nabi hanya memberi contoh mencium Hajar Aswad.

Kotak parfum Ka'bah yang disimpan di museum ini juga berwarna cokelat tua. Sewaktu masih difungsikan di dalam Ka'bah, botol-botol parfum yang dipakai untuk mengharumkan ruangan Ka'bah disimpan di kotak itu.


Riwayat Ka'bah


Ka'bah  awalnya dibangun oleh Adam dan kemudian anak Adam, Syist, melanjutkannya. Saat terjadi banjir Nabi Nuh, Ka'bah ikut musnah dan Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun kembali. Al-Hafiz Imaduddin Ibnu Katsir mencatat riwayat itu berasal dari ahli kitab (Bani Israil), bukan dari Nabi Muhammad.


Ka'bah yang dibangun Ibrahim pernah rusak pada masa kekuasaan Kabilah Amaliq. Ka'bah dibangun kembali sesuai rancangan yang dibuat Ibrahim tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Saat dikuasai Kabilah Jurhum, Ka'bah juga mengalami kerusakan dan dibangun kembali dengan meninggikan fondasi. Pintu dibuat berdaun dua dan dikunci.


Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka'bah selepas Nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, tinggi Ka'bah ditambah menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, kemudian disimpan oleh Qusai, hingga masa Ka'bah dikuasai oleh Quraisy pada masa Nabi Muhammad.


Nabi Muhammad membantu memasangkan Hajar Aswad itu pada tempat semestinya.


Dari masa Nabi Ibrahim hingga ke bangsa Quraisy terhitung ada 2.645 tahun. Pada masa Quraisy, ada perempuan yang membakar kemenyan untuk mengharumkan Ka'bah. Kiswah Ka'bah pun terbakar karenanya sehingga juga merusak bangunan Ka'bah. Kemudian, terjadi pula banjir yang juga menambah kerusakan Ka'bah. Peristiwa kebakaran ini yang diduga membuat warna Hajar Aswad yang semula putih permukaannya menjadi hitam.


Untuk membangun kembali Ka'bah, bangsa Quraisy membeli kayu bekas kapal yang terdampar di pelabuhan Jeddah, kapal milik bangsa Rum. Kayu kapal itu kemudian digunakan untuk atap Ka'bah dan tiga pilar Ka'bah. Pilar Ka'bah dari kayu kapal ini tercatat dipakai hingga 65 H. Potongan pilarnya tersimpan juga di museum.


Empat puluh sembilan tahun sepeninggal Nabi (yang wafat pada 632 Masehi atau tahun 11 Hijriah), Ka'bah juga terbakar. Kejadiannya saat tentara dari Syam menyerbu Makkah pada 681 Masehi, yaitu di masa penguasa Abdullah bin Az-Zubair, cucu Abu Bakar, yang berarti juga keponakan Aisyah.


Kebakaran pada masa ini mengakibatkan Hajar Aswad yang berdiameter 30 cm itu terpecah jadi tiga.


Untuk membangun kembali, seperti masa-masa sebelumnya, Ka'bah diruntuhkan terlebih dulu. Abdullah AzZubair membangun Ka'bah dengan dua pintu. Satu pintu dekat Hajar Aswad, satu pintu lagi dekat sudut Rukun Yamani, lurus dengan pintu dekat Hajar Aswad. Abdullah bin Az-Zubair memasang pecahan Hajar Aswad itu dengan diberi penahan perak. Yang terpasang sekarang adalah delapan pecahan kecil Hajar Aswad bercampur dengan bahan lilin, kasturi, dan ambar.

Jumlah pecahan Hajar Aswad diperkirakan mencapai 50 butir.

Pada 693 Masehi, Hajjaj bin Yusuf Ath-Taqafi berkirim surat ke Khalifah Abdul Malik bin Marwan (khalifah kelima dari Bani Umayyah yang mulai menjadi khalifah pada 692 Masehi), memberitahukan bahwa Abdullah bin Az-Zubair membuat dua pintu untuk Ka'bah dan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bangunan Ka'bah.


Hajjaj ingin mengembalikan Ka'bah seperti di masa Quraisy; satu pintu dan Hijir Ismail berada di luar bangunan Ka'bah. Maka, oleh Hajjaj, pintu kedua--yang berada di sebelah barat dekat Rukun Yamani--ditutup kembali dan Hijir Ismail dikembalikan seperti semula, yakni berada di luar bangunan Ka'bah.


Akan tetapi, Khalifah Abdul Malik belakangan menyesal setelah mengetahui Ka'bah di masa Abdullah bin AzZubair dibangun berdasarkan hadis riwayat Aisyah. Di masa berikutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid hendak mengembalikan bangunan Ka'bah serupa dengan yang dibangun Abdullah bin Az-Zubair karena sesuai dengan keinginan Nabi.

Namun, Imam Malik menasihatinya agar tidak menjadikan Ka'bah sebagai bangunan yang selalu diubah sesuai kehendak setiap pemimpin. Jika itu terjadi, menurut Imam Malik, akan hilang kehebatannya di hati kaum Mukmin.

Pada 1630 Masehi, Ka'bah rusak akibat diterjang banjir. Sultan Murad Khan IV membangun kembali, sesuai bangunan Hajjaj bin Yusuf hingga bertahan 400 tahun lamanya pada masa pemerintahan Sultan Abdul Abdul Aziz. Sultan inilah yang memulai proyek pertama pelebaran Masjidil Haram.


Replika mushaf di Museum ini tersimpan pula replika Quran mushaf Usmani yang bacaannya, susunan surah dan ayatnya, serta jumlah surah dan ayatnya dipakai sebagai panduan hingga sekarang. Yang berbeda cuma bentuk hurufnya.


Pada masa Khalifah Usman bin Affan (35 H) dibuatlah standardisasi penulisan Quran. Di masa itu, sahabatsahabat Nabi memiliki mushaf yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan surah dan ayat, maupun jumlah surah dan ayat.


Mushaf yang dimiliki Ibnu Mas'ud, misalnya, tidak menyertakan Surat AlFatihah dan susunan surat yang berbeda. Surah keenam bukanlah Surah Al-An'am, melainkan Surah Yunus.


Quran Ali bin Abi Thalib juga tak memiliki Surah Al-Fatihah. Ali juga tak memasukkan surah ke-13, 34, 66, dan 96 ke mushafnya. "Ukuran mushaf Usman yang asli berbeda dari yang ini. Ini hanya duplikat,'' ujar Abdul Rahman. (republika)